Pengertian Paradigma Sosiologi - George Ritzer

Kajian ini berusaha membahas beberapa permasalahan sebagai berikut: Apa yang dimaksudkan dengan paradigma sosiologi itu? Apa sebab timbulnya paradigma dalam sosiologi ? Bagaimana hubungan antara paradigma yang satu dengan paradigma yang lain? Inilah beberapa masalah yang dibahas dalam uraian berikut ini.

Disadur dari buku Sosiologi Ilmu Berparadigma Ganda - George Ritzer, setiap babnya terbagi kedalam beberapa post yang bisa dilihat di halaman bawah.

Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Khuhn dengan karyanya The structure of Scientific Revolution (1962). Konsep paradigma yang di populerkan oleh Robert Friedrichs melalui bukunya  Sosiology of Sosiology  (1970) yang kemudian selanjutnya di ikuti oleh Lodahl dan Cordon (1972), Philips (1973), Effrat (1972) serta Friedrichs sendiri (1972a) dan (1972 b)

Paradigma merupakan terminologi kunci dalam model perkembangan ilmu pengetahuan yang diperkanalkan Kuhn. Tapi sayangnya ia tidak merumuskan dengan jelas tentang apa yang dimaksudkannya dengan paradigma itu. Malahan istilah paradigma yang dipergunakan tak kurang dari dua puluh satu cara yang berbeda. Masterman mencoba meredusir kedua puluh satu konsep paradigma Kuhn yang berbeda beda itu menjadi tiga tipe. Yaitu:

1.    Paradigma Metafisik (metaphysical paradigma) memerankan beberapa fungsi:

  • Menunjukan kepada sesuatu yang ada (dan sesuatu yang tidak ada) yang menjadi pusat perhatian dari suatu komunitas ilmuwan tertentu.
  • Menunjuk kepada komunitas ilmuwan tertentu yang memusatkan perhatian mereka untuk menemukan sesuatu yang ada yang menjadi pusat perhatian mereka.
  • Menunjuk kepada ilmuwan yang berharap untuk menemukan sesuatu yang sungguh-sungguh ada yang menjadi pusat perhatian dari disiplin ilmu mereka.
Dengan demikian paradigman metafisik ini merupakan konsenus yang terluas dalam suatu disiplin ilmu, yang membantu membatasi bidang (scope) dari suatu ilmu sehingga dengan demikian membantu mengarahkan komunitas ilmuwan dengan melakukan penyelidikannya.

2.    Paradigma Sosiologi (Sociological Paradigma)

Paradigm sosiologi ini sangat mirip dengan konsep exemplar dari Thomas Khun. Khun mendiskusikan keanekaragaman fenomena yang mencakup dalam pengertian seperti: kebiasaan-kebiasaan nyata, keputusan-keputusan hokum yang diterima, hasil-hasil nyata perkembangan ilmu pengetahuan, serta hasil-hasil penemuan ilmu pengetahuan yang diterima secara umum.

3.    Paradigma Konstruk ( Construct Paradigma)

Paradigma konstruk adalah konsep yang paling sempit di antara ketiga tipe paradigman yang di kemukankan oleh Masterman di atas. Di contohkannya pembanguan reactor nuklir memainkan peranan sebagai paradigma dalam ilmu nuklir.

Sampai sedemikian jauh masih belum diperoleh suatu pengertian yang jelas tentang apa yang dimaksudkan dengan paradigma itu. Robert Friedrich adalah orang pertama yang mencoba merumuskan pengertian paradigma ini secara lebih jelas. Dalam upayanya menganalisa perkembangan sosiologi dari perspektif paradigma ini, ia merumuskan paradigma:
Sebagai suatu pandangan mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang nmenjadi pokok persoalan (Subject Matter) yang semestinya di pelajari ( a fundamental image a discipline has of its subject matter).
George Ritzer, dengan mensintesakan pengertian paradigma yang telah dikemukakan oleh Kuhn, Masterman dan Friedrich, mencoba merumuskan pengertian paradigma itu secara lebih jelas dan terperinci tentang apa ya yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan (discipline).
Paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan-persoalan apa yang mesti dijawab, bagaimana seharusnya menjawabnya, serta aturan-aturan apa yang  harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dalam rangka menjawab persoalan-persoalan tersebut.
Mengapa timbul berbagai macam paradigma dalam sosiologi?, factor apa yang membedakan atau menyebabkannya berbeda? Persoalan diatas menurut George Ritzer disebabkan karena tiga factor.
  1. Karena dari semula pandangan filsafat yang mendasari pemikiran ilmuwan tentang apa yang semestinya menjadi substansi dari cabang ilmu yang dipelajari itu berbeda. Dengan demikian, asumsi atau aksiomanya menjadi berbeda antara kelompok ilmuwan yang satu dengan kelompok ilmuwan yang lain. 
  2. Sebagai konsekuensi logis dari pandangan filsafat yang berbeda itu maka teori-teori yang dibangun dan dikembangkan oleh masing-masing komunitgas ilmuwan itu berbeda. Pada masing-masing komunitas ilmuwan berusaha bukan saja untuk mempertahankan kebenaran teorinya tetapi juga berusaha melancarkan kecaman terhadap kelemahan teori dari komunitas ilmuwan yang lain. 
  3. Dominasi , perbedaan teori melahirkan beberapa golongan komunitas yang saling untuk mendapatkan dominasi dari paradigma yang di anut masing-masing. Dukungan terhadap suatu paradigma menjadi lebih banya didasarkan atas pertimbangan politis di banding kan dengan pertimbangan obyektif ilmiah. Mereka yang mengganut paradigma yang dominan akan mendapatkan alokasi kekuasaan yang lebih besar dibandingkan dengan mereka yang menganut paradigma yang kurang dominan.Dengan demikian dilapangan ilmu pengetahuanm system nilai (value system) juga turut berpengaruh di samping obyektifitas.
Ritzer menilai bahwa sosiologi itu terdiri atas kelipatan beberapa paradigma (multiple paradigma). Pergulatan pemikiran tersebut terjema juga dalam exemplar, teori-teori, metode serta perangkat yang digunakan masing-masing komunitas ilmuwan yang termasuk kedalam paradigma tertentu. Pergulatan pemikirian sedemikian itulah yang menandai pertumbuhan dan perkembangan sosiologi sejak awal hingga kedudukannya seperti sekarang.

BAB 2: PARADIGMA FAKTA SOSIAL
BAB 3: PARADIGMA DEFENISI SOSIAL
BAB 4: PARADIGMA PERILAKU SOSIAL
BAB 5: PERBEDAAN ANTARA PARADIGMA (Suatu Penilaian)
BAB 6: MENUJU PARADIGMA SOSIOLOGI YANG TERPADU

1 comments:

izin copy boleh gan ?
buat tugas kuliah?

Reply

Post a Comment