Paradigma Sosiologi - Defenisi Sosial

1.    EXEMPLAR

Exemplar paradigma ini adalah salah satu aspek yang sangat khusus dari karya Weber, yakni dalam analisanya tentang tindakan sosial. Konsep Weber tentang fakta sosial berbeda sekali dari konsep Durkheim. Weber tidak memisahkan dengan tegas antara struktur sosial dengan pranata sosial. Struktur sosial dan pranata sosial keduanya membantu untuk membentuk tindakan manusai yang penuh arti dan penuh makna.

2.    POKOK PERSOALAN

Weber mengartikan sosiologi sebagai studi tentang tindakan sosial antar hubungan sosial. Kedua hal itulah yang menurutnya menjadi pokok persoalan sosiologi. Yang dimaksudkannya dengan tindakan sosial itu adalah tindakan individu sepanjang tindakannya itu mempunyai makna atau arti subyektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain.
  
Secara defenitif Weber merumuskan sosiologi sebagai ilmu yang berusaha untuk menafsirkan dan memahami (interpretative understanding) tindakan sosial serta antar hubungan sosial untuk sampai kepada penjelasan kausal. Dalam defenisi ini terkandung dua konsep dasarnya. Pertama konsep tindakan sosial. Kedua konsep tentang penafsiran dan pemahaman. Konsep terakhir ini menyangkut metode untuk menerangkan yang pertama.
  
Weber mengemukakan lima ciri pokok yang menjadi sasaran penelitian sosiologi yaitu:
  1. Tindakan manusia, yang menurut si actor mengandung makna yang subyektif. Ini meluputi berbagai tindakan nyata.
  2. Tindakan nyata dan bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat subyekfif
  3. Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan yang sengaja diulang serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam.
  4. Tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada beberapa individu.
  5. Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang lain itu
Tindakan sosial dapat pula dibedakan dari sudut waktu sehingga ada tindakan yang darahkan kepada waktu sekarang, waktu lalu atau waktu yang akan dating.
  
Pertanyaannya: bagaimana mempelajari tindakan sosial itu ? Weber menganjurkan melalui penafsiran dan pemahaman (intepretatif understanding) atau menurut terminologi Weber sendiri dengan: Verstehen. Jelas disini untuk mempelajarinya tidak mudah. Bila seseorang hanya berusaha meneliti perilaku (behavior) saja dia tidak akan yuakin bahwa perbuatan itu mempunya iarti subyektif dan diarah kan kepada orang lain. Peneliti sosiologi harus mencoba menginterpretasikan tindakan si actor. Dalam artian yang mendasar, sosiolog harus memahami motif dari tindakan si actor.
  
Timbul pertanyaan kedua: Bagaimana memahami motif tindakan si actor itu? Hal ini weber menyarankan dua cara: 1). Dengan melalui kesungguhan 2). Dengan coba mengenangkan dan menyelami pengalaman siaktor.
Tambahan idenya tentang pemahaman ini menempatkan Weber terpisah dari penganut paradigma lainnya. Metode pemahaman yang diajukan weber ini bukan hanya bersifat pemberian penjelasan kausal belaka terhadap tindakan sosial manusia seperti penjelasan dalam ilmu alam.

3.    TEORI-TEORI DEFENISI SOSIAL

Ada tiga teori yang termasuk ke dalam paradigma defenisi sosial ini. Masing-masing: Teori aksi (action theory), interaksionisme simbolik(simbolik interactionism) dan fenomenologi (phenomenology). Ketiga tiganya jelas mempunyai beberapa perbedaan, tapi juga dengan beberapa persamaan dalam factor-faktor yang menetukan tujuan penyelidikannya serta gambaran tentang pokok persoalan sosiolgi menurut masing-masing yang dapat mengurangi perbedaannya.
  
Ketiga teori yang termasuk kedalam paradigma definisi sosial, sama sama mengarahkan perhatian kepada: proses sosial, terutama para pengikut interaksionisme simbolik. Dalam kadar yang agak kurang terdapat pula pada penganut teori aksi dan fenomenologi.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas berikut ini akan dibahas ketiga teori itu satu persatu.

TEORI AKSI (Action Theory)

Teori ini sepenuhnya mengikuti karya Weber. Teori aksi dewasa ini tidak banyak emngalami perkembangan melebihi apa yang sudah di capai took utamanya Weber. Malahan teori ini sebenarnya telah mengalami semacam jalan buntu. Arti pentingnya justru terletak pada peranannya dalam mengembangkan kedua teori berikutnya yakni teori interaksionisme simbolis dan teori fenomenologi.

TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK

Teori interaksionisme simbolik ini berkembang pertama kali di Universitas Chicago dikenal dengan aliran Chicago. Dua orang tokoh besarnya John Dewey dan Charles Horton Cooley adalah filosof yang semula mengembangkan Teori interaksionisme simbolik di Universitas Michigan. Dewey yang pindah ke Universitas Chicago mempengaruhi beberapa orang tokoh disana.
  
Walaupun begitu dari keseluruhan aliran pemikiran sosiologi. Interaksionisme simbolik adalah teori yang paling sukar disimpulkan. Teori ini berasal dari berbagai sumber tetapi tidak ada satu sumber yangdapat memberikan pernyataan tunggal tentang apa yang menjadi isi dari teori ini, kecuali satu hal, yakni bahwa ide dasar teori ini bersifat menentang behaviorisme radikal yang dipelopori oleh J.B.Watson. hal ini tercermin dari gagasan tokoh sentral teori yakni G.H. Mead yang bermaksud untuk membedakan teori ini dari teori behavioralisme radikal itu.
  
Behaviorisme sebagaimana namanya menunjukan, mempelajari tingkah laku manusia secara obyektif dari luar. Sedang kan Mead dari interaksionisme simbolik, mempelajari tindakan sosial dengan mempergunakan teknik itrospeksi untuk dapat mengetahui barang sesuatu yang melatar belakangi tindakan sosial itu dari sudut actor.

TEORI FENOMENOLOGI

Persoalan pokok yang hendak diterangkan oleh teori ini justru menyangkut persoalan pokok ilmu sosial sendiri, yakni bagaimana kehidupan bermasyarakat ini dapat terbentuk.
  
Secara singkat dapat dikatakan bahwa interaksi sosial terjadi dan berlangsung melalui penafsiran dan pemahaman tindakan masing-masing baik antar individu maupun antar kelompok.
Ada empat unsur pokok dari teori ini:
  1. Perhatian terhadap actor. Penggunaan metode ini dimaksudkan pula untuk mengurangi pengaruh subyektivitas yang menjadi sumber penympangan, bias dan ketidaktepatan informasi.
  2. Memusatkan perhatian pada kenyataan yang penting atau yang pokok dak kepada sikap yang wajar atau alamiah (natural attitude) alasannya adalah tidak keseluruhan gejala kehidupan sosial mampu diamati. Karena itu perhatian harus dipusatkan kepada gejala yang penting dari tindakan manusai sehari-hari dan terhadap sikap-sikap yang wajar.
  3. Memusatkan perhatian kepada masalah mikro. Maksudnya mempelajari proses pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial pada tingkat interaksi tatap muka untuk memahaminya dalam hubungan nya dengan situasi tertentu.
  4. Memperhatikan pertumbuhan, perubahan dan proses tindakan. Berusaha memahami bagaimana keteraturan masyarakat diciptakan dan dipelihara dalam kehidupan pergaulan sehari-hari.

4.    METODE DEFENISI SOSIAL

Penganut paradigma Definisi sosial ini cenderung mempergunakan metode observasi dalam penelitian mereka. Alasannya adalah untuk dapat memahami realitas intrasubhective dan intersubjective dari tindakan sosial dan interaksi sosial. Untuk maksud tersebut metode kuesioner dan interview dinilai kurang relefvan. Begitupula metode eksperimen. Metode ini meskipun dapat mengganggu spontanitas tindakan serta kewajaran dari sikap si actor yang diselidiki, melalui penggunaan metode observasi dapat disimpulkan hal hal yang bersifat intrasubjective dan intersubjective yang timbul dari tindakan actor yang diamati.
Tipe teknik observasi
  
Teknik yang paling ringan adalah observasi yang bersifat eksplorasi. Teknik ini paling subyektif sifatnya dan pemakaiannya berhubungan erat dengan rencana observasi yang sebernarnya. Biasanya teknik observasi dipergunakan terutama untuk mengamati tingkahlaku actual, berdasarkan cara peneliti berpartisipasi didalam kelompok yang diselidikinya, dapat dibedakan empat tipe observasi:
  1. Participant observation. Peneliti tidak memberitahukan maksudnya kepada kelompok yang diselidikinya. Peneliti dengan sengaja menyembunyikan bahwa kehadirannya ditengah-tengah kelompok yang diselidikinya itu adalah untuk meneliti.
  2. Participant as observer. Bedanya dengan teknik yang pertama terletak pada kenyataan bahwa dalm teknik ini peneliti memberitahukan maksudnya kepada kelompok yang diteliti.
  3. Observer as participant. Teknik ini dipergunakan dalam penelitian yang hanya berlangsung dalam sekali kunjungan dan dalam waktu singkat, misalnya sehari. Karena itu teknik ini jelas memerlukan perencanaan yang sangat terperinci tentang segala sesuatu  yang akan dicari melalui penelitian singkat itu.
  4. Complete observer. Peneliti tidak berpartisipasi tetapi menempatkan dirinya sebagai orang luar sama sekali dan subyek yang diselidiki tidak menyadari bahwa mereka sedang diselidiki. Teknik ini dapat terstruktur atau tidak.
Kelemahan teknik observasi ini ialah bahwa diberitahukan atau tidak namun kehadiran peneliti ditengah-tengah kelompok yang diselidiki itu akan mempengaruhi tingkah laku subyek yang diselidiki itu. Lagi pula tidak semua tingkah laku dapat diamati dengan teknik ini. Seperti tingkah laku seksual misalnya.

Pengertian Paradigma Sosiologi - George Ritzer

Kajian ini berusaha membahas beberapa permasalahan sebagai berikut: Apa yang dimaksudkan dengan paradigma sosiologi itu? Apa sebab timbulnya paradigma dalam sosiologi ? Bagaimana hubungan antara paradigma yang satu dengan paradigma yang lain? Inilah beberapa masalah yang dibahas dalam uraian berikut ini.

Disadur dari buku Sosiologi Ilmu Berparadigma Ganda - George Ritzer, setiap babnya terbagi kedalam beberapa post yang bisa dilihat di halaman bawah.

Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Khuhn dengan karyanya The structure of Scientific Revolution (1962). Konsep paradigma yang di populerkan oleh Robert Friedrichs melalui bukunya  Sosiology of Sosiology  (1970) yang kemudian selanjutnya di ikuti oleh Lodahl dan Cordon (1972), Philips (1973), Effrat (1972) serta Friedrichs sendiri (1972a) dan (1972 b)

Paradigma merupakan terminologi kunci dalam model perkembangan ilmu pengetahuan yang diperkanalkan Kuhn. Tapi sayangnya ia tidak merumuskan dengan jelas tentang apa yang dimaksudkannya dengan paradigma itu. Malahan istilah paradigma yang dipergunakan tak kurang dari dua puluh satu cara yang berbeda. Masterman mencoba meredusir kedua puluh satu konsep paradigma Kuhn yang berbeda beda itu menjadi tiga tipe. Yaitu:

1.    Paradigma Metafisik (metaphysical paradigma) memerankan beberapa fungsi:

  • Menunjukan kepada sesuatu yang ada (dan sesuatu yang tidak ada) yang menjadi pusat perhatian dari suatu komunitas ilmuwan tertentu.
  • Menunjuk kepada komunitas ilmuwan tertentu yang memusatkan perhatian mereka untuk menemukan sesuatu yang ada yang menjadi pusat perhatian mereka.
  • Menunjuk kepada ilmuwan yang berharap untuk menemukan sesuatu yang sungguh-sungguh ada yang menjadi pusat perhatian dari disiplin ilmu mereka.
Dengan demikian paradigman metafisik ini merupakan konsenus yang terluas dalam suatu disiplin ilmu, yang membantu membatasi bidang (scope) dari suatu ilmu sehingga dengan demikian membantu mengarahkan komunitas ilmuwan dengan melakukan penyelidikannya.

2.    Paradigma Sosiologi (Sociological Paradigma)

Paradigm sosiologi ini sangat mirip dengan konsep exemplar dari Thomas Khun. Khun mendiskusikan keanekaragaman fenomena yang mencakup dalam pengertian seperti: kebiasaan-kebiasaan nyata, keputusan-keputusan hokum yang diterima, hasil-hasil nyata perkembangan ilmu pengetahuan, serta hasil-hasil penemuan ilmu pengetahuan yang diterima secara umum.

3.    Paradigma Konstruk ( Construct Paradigma)

Paradigma konstruk adalah konsep yang paling sempit di antara ketiga tipe paradigman yang di kemukankan oleh Masterman di atas. Di contohkannya pembanguan reactor nuklir memainkan peranan sebagai paradigma dalam ilmu nuklir.

Sampai sedemikian jauh masih belum diperoleh suatu pengertian yang jelas tentang apa yang dimaksudkan dengan paradigma itu. Robert Friedrich adalah orang pertama yang mencoba merumuskan pengertian paradigma ini secara lebih jelas. Dalam upayanya menganalisa perkembangan sosiologi dari perspektif paradigma ini, ia merumuskan paradigma:
Sebagai suatu pandangan mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang nmenjadi pokok persoalan (Subject Matter) yang semestinya di pelajari ( a fundamental image a discipline has of its subject matter).
George Ritzer, dengan mensintesakan pengertian paradigma yang telah dikemukakan oleh Kuhn, Masterman dan Friedrich, mencoba merumuskan pengertian paradigma itu secara lebih jelas dan terperinci tentang apa ya yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan (discipline).
Paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan-persoalan apa yang mesti dijawab, bagaimana seharusnya menjawabnya, serta aturan-aturan apa yang  harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dalam rangka menjawab persoalan-persoalan tersebut.
Mengapa timbul berbagai macam paradigma dalam sosiologi?, factor apa yang membedakan atau menyebabkannya berbeda? Persoalan diatas menurut George Ritzer disebabkan karena tiga factor.
  1. Karena dari semula pandangan filsafat yang mendasari pemikiran ilmuwan tentang apa yang semestinya menjadi substansi dari cabang ilmu yang dipelajari itu berbeda. Dengan demikian, asumsi atau aksiomanya menjadi berbeda antara kelompok ilmuwan yang satu dengan kelompok ilmuwan yang lain. 
  2. Sebagai konsekuensi logis dari pandangan filsafat yang berbeda itu maka teori-teori yang dibangun dan dikembangkan oleh masing-masing komunitgas ilmuwan itu berbeda. Pada masing-masing komunitas ilmuwan berusaha bukan saja untuk mempertahankan kebenaran teorinya tetapi juga berusaha melancarkan kecaman terhadap kelemahan teori dari komunitas ilmuwan yang lain. 
  3. Dominasi , perbedaan teori melahirkan beberapa golongan komunitas yang saling untuk mendapatkan dominasi dari paradigma yang di anut masing-masing. Dukungan terhadap suatu paradigma menjadi lebih banya didasarkan atas pertimbangan politis di banding kan dengan pertimbangan obyektif ilmiah. Mereka yang mengganut paradigma yang dominan akan mendapatkan alokasi kekuasaan yang lebih besar dibandingkan dengan mereka yang menganut paradigma yang kurang dominan.Dengan demikian dilapangan ilmu pengetahuanm system nilai (value system) juga turut berpengaruh di samping obyektifitas.
Ritzer menilai bahwa sosiologi itu terdiri atas kelipatan beberapa paradigma (multiple paradigma). Pergulatan pemikiran tersebut terjema juga dalam exemplar, teori-teori, metode serta perangkat yang digunakan masing-masing komunitas ilmuwan yang termasuk kedalam paradigma tertentu. Pergulatan pemikirian sedemikian itulah yang menandai pertumbuhan dan perkembangan sosiologi sejak awal hingga kedudukannya seperti sekarang.

BAB 2: PARADIGMA FAKTA SOSIAL
BAB 3: PARADIGMA DEFENISI SOSIAL
BAB 4: PARADIGMA PERILAKU SOSIAL
BAB 5: PERBEDAAN ANTARA PARADIGMA (Suatu Penilaian)
BAB 6: MENUJU PARADIGMA SOSIOLOGI YANG TERPADU

Para Tokoh Ahli Dalam Bidang Sosiologi

Berikut adalah biographi singkat beberapa tokoh sosiologi, ahli-ahli ataupun pakar dalam perkembangan ilmu sosiologi dari masa kemasa. Pemikiran mereka tentang masalah sosial di dunia telah banyak menjadi bahan rujukan bagi penelitian-penelitian sosial pada saat sekarang ini. sumbangan mereka terhadap ilmu pengetahuan telah menjadikan mereka tokoh-tokoh yang sangat berjasa terhadap perkembangan ilmu sosiologi.

August Comte - "Bapak Sosiologi"

August Comte atau juga Auguste Comte (Nama panjang: Isidore Marie Auguste François Xavier Comte; lahir di Montpellier, Perancis, 17 Januari 1798 – meninggal di Paris, Perancis, 5 September 1857 pada umur 59 tahun) adalah seorang ilmuwan Perancis yang dijuluki sebagai "bapak sosiologi". Dia dikenal sebagai orang pertama yang mengaplikasikan metode ilmiah dalam ilmu sosial.
August Comte dari wikipedia



Émile Durkheim

David Émile Durkheim (lahir 15 April 1858 – meninggal 15 November 1917 pada umur 59 tahun) dikenal sebagai salah satu pencetus sosiologi modern. Ia mendirikan fakultas sosiologi pertama di sebuah universitas Eropa pada 1895, dan menerbitkan salah satu jurnal pertama yang diabdikan kepada ilmu sosial, L'Année Sociologique pada 1896.
Emile Durkheim dari Wikipedia




Max Weber 

Maximilian Weber (lahir di Erfurt, Jerman, 21 April 1864 – meninggal di München, Jerman, 14 Juni 1920 pada umur 56 tahun) adalah seorang ahli ekonomi politik dan sosiolog dari Jerman yang dianggap sebagai salah satu pendiri ilmu sosiologi dan administrasi negara modern. Karya utamanya berhubungan dengan rasionalisasi dalam sosiologi agama dan pemerintahan, meski ia sering pula menulis di bidang ekonomi. Karyanya yang paling populer adalah esai yang berjudul Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme. Weber berpendapat bahwa agama adalah salah satu alasan utama bagi perkembangan yang berbeda antara budaya Barat dan Timur.
Max Weber dari Wikipedia

Karl Marx

Karl Heinrich Marx (lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818 – meninggal di London, Inggris, 14 Maret 1883 pada umur 64 tahun) adalah seorang filsuf, pakar ekonomi politik dan teori kemasyarakatan dari Prusia.
Walaupun Marx menulis tentang banyak hal semasa hidupnya, ia paling terkenal atas analisisnya terhadap sejarah, terutama mengenai pertentangan kelas, yang dapat diringkas sebagai "Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah pertentangan kelas", sebagaimana yang tertulis dalam kalimat pembuka dari Manifesto Komunis.
Karl Marx dari Wikipedia


masih banyak tokoh-tokoh sosiologi dunia yang sangat berpengaruh. untuk itu tetap ikuti update post ini berikutnya 

Download Ebook Sosiologi SMA Kelas X, XI dan XII

Berikut ini adalah kumpulan buku sosiologi SMA kelas 1, 2 dan 3 berbentuk E-book pdf (elektronik book) yang dapat anda download langsung. Buku Sosiologi ini adalah buku sekolah elektronik gratis yang di terbitkan oleh Kementrian Pendidikan Nasional. Untuk membuka file ber ekstensi 'pdf' anda membutuhkan aplikasi pdf reader anda dapat langsung mengunduhnya dari link adobe.

Sosiologi SMA Kelas X

 

Sosiologi SMA Kelas XI

 

Sosiologi SMA Kelas XII