Perbedaan Antar Paradigma Dalam Ilmu Sosiologi

Ritzer menemukan perbedaan antara ketiga paradigma sosiologi itu bersifat estetis. Perbedaan ini sesuai dengan pengalaman penelitian dilapangan. Berbagai komponen dalam masing-masing paradigma saling menyesuaikan diri kearah hubungan yang makin harmonis.

Keseluruhan pendekatan teoritis dalam masing-masing paradigma diakui sebagai persamaan yang medasar, meskipun terdapat perbedaan dalam orientasi teoritis. Metode yang disukai oleh masing-masing paradigma, jelas sekali salng berpautan dengan masing-masing paradigma. Karena itu menurut Ritzer, paradigma yang ada dalam sosiologi itu saling berhubungan satu sama lain dengan demikian akan melemahkan sebagian besar dasar-dasar perbedaan yang ada sekarang. Ada memang perspektif yang tak dapat dikategorikan. Diantaranya adalah teori penting yang laihir dari aliran Frankfurt yang menentang klasifikasi. Teori ini menggambarkan dasar bagi kemunculan paradigma keempat. Yang lainny adalah semakin meningkatnya arti penting dari aliran biologi dalam sosiologi.

PERBEDAAN PARADIGMA SOSIOLOGI SEKARANG

Sosiologi dewasa ini secara radikal terbagi dalam tiga paradigma yang saling bersaingan. Masing masing berjuang mencapai dominasi. Pada waktu bersamaan ketiganya berkompetisi untuk memperoleh keunggulan dalam sub-area yang berdekatan dalam sosiologi. Tak ada pendukung paradigma tertentu yang bebas dari keritik penganut paradigma lainnya. Adapun yang menjadi implikasi dari kemajemukan paradigma tersebut terhadap sosiologi modern dewasa ini.

PERBEDAAN PARADIGMA SOSIOLOGI DIMASA DATANG

Ritzer menduga sebagian besar sosiolog tidak menyadari ujud perbedaan yang mendasar dalam sosiologi itu. Sebagian besar sosiolog dimasa lalu percaya perbedaan antara teori konflik dan teori fungsionalisme structural merupakan perbedaan yang mendasar dalam sosiologi.

Konklusi paling umum ialah bahwa dalam waktu dekat akan terjadi perdamaian paradigma sosiologi. Dalam waktu singkat nampaknya tak aka nada paradigma dominan dalam sosiologi. Alasannya banyak.
Pertama, jarang terjadi suatu ilmu didominasi oleh satu paradigma saja.
Kedua, meskipun penganut masing-masing paradigma menyatakan mampu menyelesaikan segenap persoalan sosiologi, namun pendekatan mereka rupanya hanya cocok untuk bidang realitas sosial tertentu saja.
Ketiga, dan terpenting, karena kesetiaan yang fanatic penganut paradigma itu terhadap politik dan tujuan paradigmanya masing-masing belum terlihat langkah-langkah yang berarti kearah pengembangan paradigma tunggal sampai saat ini karena kebanyakan sosiolog lebih beketetapan hati terhadap paradigma yang mereka anut daripada pengembangan pemikiran sosiologisnya. Komitmen utama mereka ialah untuk memenangkan paradigma yang mereka anut.

Untuk memahami ketiga paradigma, paradigma fakta sosial, paradigma prilaku sosial dan paradigma defenisi sosial secara mendalam kita harus mempelajari strukturnya, norma-norma dan nilai-niali yang dilipatnya seperti, definisi situasi dan akibat tindakan dari sosiolog penganut masing-masing paradigma itu. Suatu paradigma sosiologi mencakup struktur, institusi, defenisi situasi, tindakan dan kemungkinan perulangan tindakan. Berdasarkan kenyataan ini kita memerlukan seluruh paradigma.

 JEMBATAN PARADIGMA

Menurut Ritzer semua teoritis besar sosiologi sebenarnya mampu menjadi jembatan paradigma. Mereka sedikit banyak mampu bergerak dengan mudah diantara dua atau lebih paradigma yang didiskusikan disini. Ini sama sekali bukan proses yang disadari sekalipun sebagian besar teoritisi itu merasa perlu menerangkan realitas sosial menurut cara yang berlainan. Ada yang mencoba berususan dengan berbagai macam paradigma sekaligus, sementara yang lain berpindah dari satu paradigma ke paradigma lainnya. Yang termasuk jembatan paradigma dalam sosiologi ialah : Durkheim, Weber, Marx dan Parsons.

Secara terperinci kandungan Bab ini dapat disimpulkan sebagai berikut.
  1. Behaviorisme selain disukai banyak sosiolog juga merupakan perspektif utama sosiologi kontemporer. Sebagian besar analisa sosiologi mengabaikan arti penting behaviorisme
  2. Konsepsi umum yang memisahkan antara teori fungsionalisme structural dan teori konflik adalah menyesatkan. Kedua teori ini lebih banyak unsure persamaanya ketimbang perbedaanya, karena keduanya tercakup kedalam satu paradigma
  3. Implikasi lain ialah adanya hubungan antara teori dan metode yang selalu dikira dipraktekan secara terpisah satu sama lain. Umumnya terdapat keselarasan antara teori dan metode
  4. Ada irrasionalitas dalam sosiologi, kebanyakan sosiolog yang terlibat dalam pekerjaan teoritis dan metodologi tidak memahami kaitan erat antar keduanya.
  5. Pertentangan antar paradigma sosiologi sangat bersifat politik. Tiap paradigma bersaing disetiap bidang sosiologi. Kebanyakan upaya semata-msata untuk menyerang lawan dari paradigma lain dengan berondongan kata-kata yang berlebih-lebihan.

Paradigma Sosiologi Fakta Sosial

1.    EXEMPLAR

Exemplar paradigma fakta sosial ini diambil dari kedua karya Durkheim. Durkheim meletakkan landasan paradigma Fakta Sosial melalui karyanya The Rules of Sociological Method (1895) dan suicide (1897). Untuk memisahkan sosiologi dari pengaruh filsafat dan untuk membantu sosiologi mendapatkan lapangan penyelidikannya sendiri maka Durkheim membangun satu konsep yakni: Fakta sosial

Fakta sosial ini lah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi. Fakta sosial dinyatakannya sebagai barang sesuatu (thing) yang berbeda dengan ide. Barang sesuatu menjadi objek penyelidikan dari seluruh ilmu pengetahuan. Ia tidak dapat di pahami melalui kegiatan mental murni (spekulatif). Tetapi untuk memahaminya diperlukan penyusunan data riil dluar pemikiran manusia. Fakta sosial harus diteliti didalam dunia nyata sebagaimana orang mencari barang sesuatu lainya:

Fakta sosial menurut Durkheim terdiri atas dua macam:
1.    Dalam bentuk material. Yaitu barang sesuatu yang dapat disimak. Ditangkap dan di observasi.
2.    Dalam bentuk non material. Yaitu sesuatu yang dianggap nyata (external). Fakta sosial jenis ini merupakan fenomena yang bersifat inter subjective yang hanya dapat muncul dari dalam kesadaran manusia. Contohnya egoism, altruism dan opini.

Untuk memisahkan sosiologi dari psikologi, Durkheim dengan tegas pula membedakan antara fakta sosial dengan fakta psikologi. Fakta psikologi adalah fenomena yang dibawa oleh manusia sejak lahir (inherited). Dengan demikian bukan merupakan hasil pergaulan hidup masyararakat. Fakta sosial tidak dapat diterangkan dengan fakta psikologi. Ia hanya dapat diterangkan dengan fakta sosial pula. Karena itu ahli psikologi telah diperingatkan pula untuk tidak terlallu lama membuang waktu dengan mencoba menyelidiki fakta sosial karena fakta sosial adalah lapangan penyelidikan dari sosiologi.

2.    POKOK PERSOALAN


Pokok persoalan yang harus menjadi pusat perhatian penyelidikan sosiologi menurut paradigma ini adalah : fakta-fakta sosial. Secara garis besarnya fakta sosial terdiri atas dua tipe. Masing-masing adalah struktur sosial (sosial institution) dan pranata sosial. Sifat dasar serta antar hubungan dari fakta sosial inilah yang menjadi sasaran penelitian sosiologi menrurt paradigma fakta sosial.
Secara lebih terperinci fakta sosial itu terdiri atas : kelompok, kesatuan masyarakat tertentu (societies), system sosial, posisi, peranan, nilai-nilai, keluarga, pemerintahan dsb.
Menurut Peter Blau ada dua tipe dasar dari fakta sosial
  1. Nilai-nilai umum (common values)
  2. Norma yang terujud dalam kebudayaan atau dalam subculture
Norma dan pola nilai ini  biasa disebut institutopm atau disini diartikan dengan pranata. Sedangkan jaringan hubungan sosial dimana interaksi sosial berproses dan menjadi terorganisir serta melalui mana posisi-posisi sosial dari individu dan sub kelompok dapat dibedakanm sering diartikan sebagai struktur sosial. Dengan demikian, struktur sosial dan pranata sosial inilah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi menurut paradigma fakta sosial.
   
Bagi penganut paradigma fakta sosial, apakah mereka memusatkan perhatiannya kepada struktur sosial atau kepada pranata sosial, namun keduanya mereka pandang sebagai barang sesuatu yang sungguh-sungguh ada dalam bentuk material yang utuh dan kompleks. Perhatian utama penganut paradigma fakta sosial terpaut kepada antar hubungan antara struktur sosial, pranata sosial dan hubungan antara individu dengan struktur sosial serta antara hubungan antara individu dengan pranata sosial. Teori-teori sosiologi berbeda terminologi dalam mengkonseptualisasikan antar hubungan pranata sosial, struktur sosial dan individu ini. Perbedaan tersebut jelas terlihat dalam bahasan.

3.    TEORI-TEORI

Ada empat varian teori yang tergabung kedalam paradigma fakta sosial ini. Masing-masing adalah :
  1. Teori fungsionalisme structural
  2. Teori konflik
  3. Teori system
  4. Teori sosiologi makro
Yang dominan adalah dua teori yang disebut mula-mula. Yang dibicarakan juga hanya kedua teori pertama itum yakni teori fungsionalisme structural dan teori konflik.

TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL

Teori ini menekankan kepada keteraturan (order) dan mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Konsep-konsep utamanya adalah : fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifest dan keseimbangan (equilibrium)

TEORI KONFLIK

Teori ini dibangun dalam rangka untuk menentang secara langsung terhadap teori fungsionalisme structural. Karena itu tidak mengherankan apabila proposisi yang dikemukakan oleh penganutnya bertentangan dengan proposisi yang terdapat dalam teori fungsionalisme structural. Tokoh utama teori konflik adalah Ralp Dahrendorf.
   
Kalau menurut teori fungsionalisme structural masyarakat berada dalam kondisi statis atau tepatnya bergerak dalam kondisi keseimbangan maka menurut teori konflik malah sebaliknya. Masyarakat senantiasa dalam proses perubahan yang ditandai oleh pertentangtan yang terus menerus diantara unsure-unsurnya.
   
Kesimpulan penting yang dapat diambil adalah bahwa teori konflik ini ternyata terlalu mengabaikan keteraturan dan stabilitas yang memang ada dalam masyarakat di samping konflik itu sendiri. Masyarakat selalu dipandangnhya dalam kondisi konflik. Mengabaikan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku umum yang menjamin terciptanya keseimbangan dalam masyarakat. Masyarakat seperti tidak pernah aman dari pertikaian dan pertentangan.

4.    METODE PENELITIAN PARADIGMA FAKTA SOSIAL


Penganut paradigma fakta sosial cenderung mempergunakan metode kuesioner dan intervieu dalam penelitian empiris mereka. Metode observasi umpamanya ternyata tidak begitu cocok untuk studi fakta sosial. Alasannya karena sebagian besar dari fakta sosialmerupakan sesuatu yang dianggap sebagai barang sesuatu (a thing_ yang nyata yang tidak dapat diamati secara langsung. Hanya dapat di pelajari melalu  pemahaman (intepretatif understanding). Selain itu metode observasi dinilai terlalu sempit dan kasar untuk tujuan penelitian fakta sosial. Metode experiment juga ditolak pemakaiannya alasannya karena terlalu sempit untuk dapat meneliti fakta sosial yang memang bersifat makroskopik.

Pemakaian metode kuesioner dan interview oleh para penganut paradigma fakta sosial ini sebenarnya mengandung suatu ironi sebab informasi yang dikumpulkan melalui kuesioner dan interview banyak mengandung unsure subyektivitas dari si informan.

Terhadap kelemahan metode tersebut James Coleman (1970) mengajukan beberapa saran sbb. Pertama kelemahan kuesioner dan interview dapat diatasi dengan menyusun pertanyaan-pertanyaan yang runtun secara rasional. Kedua dengan mengajukan pertanyaak ekpada individu tentang unit sosialnya sendiri. Dua cara ini merupakan cara terakhir untuk memperoleh informasi fakta sosial. Ketiga dengan menggunakan teknik sampling yang disebut coleman:”Snowball Sampling”. Artinya menanyakan kepada anggota sampel siapa saja yang menjadi teman terdekatnnya. Selain dari itu dapat pula dipergunakan teknik sampling yang disebutnya :saturation samling, yakni dengan mengajukan pertannyaan sosiometrik dalam jumlah yang banyak. Terakhir dapat pula dilakukan sampling bertingkat (multi stage sampling).