Perbedaan Antara Psikologi dan Sosiologi

Kesalahpahaman yang umum yang kadang sering terjadi adalah dalam mengartikan dua disiplin ilmu yang ejaannya hampir sama yaitu psikologi dan sosiologi.

Banyak orang yang belum paham atau mengerti tentang apa perbedaan antara psikologi dan sosiologi, bahkan banyak yang mengira psikologi adalah sosiologi, dan sosiologi adalah psikologi. Hal ini tentu tidak benar, kedua disiplin ilmu tersebut memang memiliki subyek yang sama, namun perspektif yang digunakan adalah yang menjadi perbedaan utama. Keduanya melihat hal yang sama, hanya dalam cahaya yang berbeda .

Jadi, apa perbedaan antara psikologi dan sosiologi?

Sosiologi adalah studi tentang populasi manusia atau masyarakat. Disiplin ilmu ini berfokus pada bagaimana orang bertindak dan berpikir dalam masyarakat dan bagaimana mereka bertindak sendiri. Sosiolog akan melihat peran seseorang yang berada diantara masyarakat atau kelompok dan hubungan antara anggota kelompok atau masyarakat. Penelitian mereka digunakan untuk merancang kebijakan sosial .

Psikologi adalah studi tentang pikiran dan tindakan individu dan bagaimana hal itu mempengaruhi perilaku. Ini berfokus pada inner seseorang. Masyarakat berpengaruh hanya jika interaksi seseorang dengan dengan lingkungannya mempengaruhi cara mereka bertindak secara individual. Psikolog dituntut untuk dapat membantu mengubah perilaku seseorang .

Jadi, kedua ilmu tersebut sama-sama melihat hubungan manusia dan fungsi manusia, perspektif nya lah yang menjadi pembeda. Sosiologi berfokus pada aspek sosial dari hubungan manusia, sedangkan psikologi berfokus pada aktivitas otak fisik yang menyebabkan seseorang untuk melakukan sesuatu.

Pada akhirnya , kedua ilmu tersebut yaitu sosiologi dan psikologi sama-sama menguntungkan individu dan masyarakat secara keseluruhan. Kedua disiplin ilmu ini sosiologi dan psikologi adalah ilmu yang sangat penting untuk mempelajari manusia dan interaksi mereka satu sama lain dalam masyarakat.

Penjelasan dan Definisi Singkat Tentang Sosiologi

Definisi Singkatnya, sosiologi adalah studi ilmiah masyarakat. Sosiolog menggunakan alat, metode serta ilmu pengetahuan untuk memahami bagaimana dan mengapa manusia berperilaku seperti yang mereka lakukan ketika mereka berinteraksi bersama dalam kelompok. Meskipun kelompok-kelompok sosial - atau masyarakat - terdiri dari individu, namun sosiologi adalah studi yang melihat masalah kelompok daripada individu (psikologi)

Kebanyakan orang yang menyebut diri mereka "sosiolog" bekerja di universitas dan perguruan tinggi, di mana mereka mengajar sosiologi dan melakukan penelitian sosiologis. Mereka mengajukan berbagai pertanyaan tentang masyarakat, kadang-kadang ingin jawaban hanya demi rasa ingin tahu, namun berkali-kali temuan mereka digunakan untuk menginformasikan keputusan oleh para pembuat kebijakan, eksekutif, dan individu lainnya. Banyak orang yang mempelajari sosiologi untuk dapat melakukan penelitian sosiologis di luar akademis, bekerja untuk instansi pemerintah, lembaga survei, atau perusahaan swasta. 

Belajar sosiologi, apakah Anda menyebut diri sebagai seorang"sosiolog,"? kalau iya berarti Anda harus memiliki imajinasi sosiologis. harus bersedia menyisihkan ide-ide dan pemikiran Anda tentang bagaimana seharusnya dunia sosial bekerja sehingga Anda dapat melihat bagaimana hal itu benar-benar bekerja. Namun bukan berarti bahwa sosiolog tidak memiliki nilai-nilai pribadi dan pendapat tentang dunia sosial, mereka para sosiolog percaya bahwa untuk mengubah dunia, Anda harus terlebih dahulu memahaminya.

Di antara ilmu-ilmu sosial, sosiologi selalu unik dalam ambisinya untuk memahami dunia sosial seluruh - mempertimbangkan semua aspek dalam kombinasi bukan dalam isolasi. Ini adalah tugas yang menakutkan, dan salah satu hal yang seorang sosiolog masih perjuangkan sampai hari ini.

Sejarah Sosiologi dianggap sebagai salah satu dari ilmu-ilmu sosial - bersama dengan ekonomi, psikologi, antropologi, geografi, dan ilmu politik. Ilmu-ilmu sosial lahir di abad 18 dan 19, ketika orang mulai menerapkan metode ilmiah untuk kehidupan manusia dan perilaku. Dunia berubah secara dramatis seperti industri produksi yang menggantikan pertanian, seperti system pemerintahan demokratis menggantikan monarki, dan seperti kehidupan desa yang berganti menjadi kehidupan kota. 

Sama seperti ilmu sosial lainnya dalam sosiologi Anda tidak akan dapat memahami makro (besar) tanpa juga memahami mikro (kecil)

Imajinasi sosiologis - Sosiologi Bukan Hanya Sekedar Akal Sehat

Sosiologi adalah studi tentang kehidupan sosial manusia. Karena kehidupan sosial manusia begitu luas , sosiologi memiliki banyak sub - bagian dari studi contohnya seperti sosiologi gender, sosiologi agama, ekonomi, lingkungan, politik dan lainnya.

Dunia sosial berubah. Beberapa berpendapat itu tumbuh, yang lain mengatakan itu menyusut . Hal yang penting untuk dipahami adalah : masyarakat tidak tetap tidak berubah dari waktu ke waktu . Seperti yang akan dibahas lebih rinci di bawah , sosiologi berakar pada perubahan sosial yang signifikan ( misalnya , revolusi industri , penciptaan kerajaan , dan pencerahan penalaran ilmiah ) .

Praktisi awal mengembangkan disiplin sebagai upaya untuk memahami perubahan masyarakat. Beberapa teori sosiologis awal ( misalnya , Marx , Weber , dan Durkheim ) terganggu oleh proses-proses sosial mereka diyakini sebagai pendorong perubahan, seperti pencarian solidaritas, pencapaiannya tujuan sosial , dan naik turunnya kelas, dll.

Penting untuk dicatat pada titik ini bahwa tokoh-tokoh pendiri sosiologi adalah beberapa individu awal yang mempekerjakan apa yang C. Wright Mills sebut sebagai imajinasi sosiologis.

Apa itu imajinasi sosiologis? imajinasi sosiologis merupakan kemampuan untuk menempatkan masalah pribadi dalam kerangka informasi tentang isu-isu sosial. Mills mengatakan bahwa apa yang orang butuhkan manusia adalah kualitas pikiran yang akan membantu mereka untuk menggunakan informasi dan mengembangkan alasan untuk mencapai penjumlahan jelas tentang apa yang terjadi di dunia dan apa yang mungkin terjadi dalam diri mereka.

Imajinasi sosiologis memungkinkan pemiliknya untuk memahami adegan sejarah besar dalam hal maknanya bagi kehidupan batin dan karir eksternal dari berbagai individu. Mills melihatnya sebagai, imajinasi sosiologis dapat membantu individu mengatasi dengan dunia sosial dengan membantu mereka untuk melangkah keluar dari pandangan dunia pribadi mereka dan dengan demikian melihat peristiwa dan struktur sosial yang mempengaruhi perilaku, sikap, dan budaya.

Inilah sebabnya mengapa orang-orang telah menggunakan upacara keagamaan selama berabad-abad untuk memohon kehendak para dewa - karena mereka percaya para dewa lah yang mengendalikan unsur-unsur tertentu dari alam ( misalnya , cuaca ). Sama seperti tari hujan merupakan upaya untuk memahami bagaimana cuaca bekerja tanpa menggunakan analisis empiris.

Tetapi dalam rangka untuk menguji teori mereka, sosiolog bangkit dari kursi mereka dan memasuki dunia sosial. Mereka mengumpulkan data dan mengevaluasi teori mereka dalam data yang mereka kumpulkan . Sosiolog tidak hanya mengusulkan teori tentang bagaimana dunia sosial bekerja . Sosiolog menguji teori mereka tentang bagaimana dunia bekerja dengan menggunakan metode ilmiah.

Sosiolog, seperti semua manusia, memiliki nilai, keyakinan, dan bahkan praduga-praduga dari apa yang mereka pikirkan dan mungkin mereka temukan dalam penelitian mereka. Namun, seperti pendapat Peter Berger, apa yang membedakan sosiolog dari para peneliti non-ilmiah adalah bahwa : sosiolog mencoba untuk melihat apa yang ada. Dia mungkin memiliki harapan atau ketakutan tentang apa yang mungkin ia temukan. Tapi dia akan mencoba untuk melihat, terlepas harapannya atau ketakutan.

Sosiologi, adalah upaya untuk memahami dunia sosial dengan menempatkan kegiatan sosial dalam lingkungan yang berhubungan ( yaitu , struktur sosial , budaya, sejarah ) dan mencoba memahami fenomena sosial dengan mengumpulkan dan menganalisis data empiris .

Manfaat Sosiologi adalah

  • Sosiologi memberikan pemahaman tentang isu-isu sosial dan pola perilaku 
  • Sosiologi membantu kita memahami cara kerja sistem sosial di mana kita menjalani hidup kita.
  • Sosiologi membantu kita memahami mengapa kita memandang dunia dengan cara yang kita lakukan.
  • Sosiologi membantu kami mengidentifikasi apa yang kita miliki dalam kesamaan, dan di antara, budaya dan masyarakat.
  • Sosiologi membantu kita memahami mengapa dan bagaimana perubahan masyarakat.
  • Sosiologi memberikan kita perspektif teoritis di mana untuk membingkai ini sebagai sebuah pemahaman dan metode penelitian yang memungkinkan kita untuk mempelajari kehidupan sosial ilmiah.
  • Sosiologi adalah ilmu sosial.
  • Sosiologi bukan hanya sekedar akal sehat.

25 Hal Menarik Yang Dapat Menjadi Topik Esai atau Penelitian Sosiologi

Pembahasan ilmu Sosiologi selalu berurusan dengan studi perilaku sosial manusia dalam masyarakat, karena pada dasarnya memang sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat sehingga topik bahasan sosiologi pun merujuk kepada fenomena-fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.


Seorang sosiolog atau calon sosiolog harus mampu melihat topic-topik menarik yang ada di masyarakat. Biasanya ini nih yang sering menjadi beban bagi teman mahasiswa sosiologi. Mahasiswa sosiologi kerap kali di bingungkan dengan topik-topik bahasan yang akan di ambilnya dalam penelitian. Termasuk penelitian tugas akhir skripsi. Hehe 

Pada umumnya, esai ataupun tulisan-tulisan tentang sosiologi sebagian besar didasarkan pada gaya penulisan nya yaitu gaya penulisan yang informatif dan gaya penulisan yang argumentatif , esai sosiologi argumentatif menuntut penulis untuk menuangkan segala yang ada di pikirannya menjadi sebuah tulisan serta dapat di bumbuin dengan argumen-argumen atau pendapat si penulis. Sementara esai informatif dimaksudkan untuk lebih memberikan fakta dari pada opini atau argumentasi.

Apakah itu esai argumentatif atau informatif , penulis harus mampu mengembangkan topik yang dapat menarik perhatian pembaca, dan ini jelas bukan tugas yang mudah .

Berikut ini ada 25 hal menarik yang dapat menjadi topik bahasan dalam penelitian sosiologi teman-teman mahasiswa yang ingin melakukan penelitian atau pun yang sedang mencari judul untuk skripsi nya.

Topik-topik di bawah ini hanyalah contoh saja, teman-teman dapat mengembangkannya sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada disekitar.

 1 - Pemuda kecanduan alkohol - Penyebab dan keprihatinan
 2 - Perbandingan antara anak-anak yang dibesarkan di Indonesia dan Amerika
 3 - Apa dan harus peran politisi dalam mensosialisasikan melalui kampanye ?
 4 - Keuntingan dan kerugian media untuk masyarakat ?
 5 - Bagaimana lintas transformasi budaya media yang menghancurkan budaya suatu masyarakat tertentu?
 6 - Internet dan implikasinya pada masyarakat .
 7 - Difusi inovasi dalam budaya Eropa .
 8 - perbandingan Kritis antara sosiologi dan antropologi
 9 - Homoseksualitas - peringatan penting untuk masyarakat kita
 10 - Pandangan tentang transplantasi organ dalam masyarakat kita
 11 - Apa penyebab meningkatnya kejahatan jalanan di masyarakat kita ?
 12 - Apa artinya menjadi orang tua tunggal dalam masyarakat yang konservatif ?
 13 - Perbandingan antara pernikahan dan hidup bersama?
 14 - Hidup di daerah pedesaan dan kehidupan di kota metropolitan
 15 - Peningkatan materialisme meningkatkan depresi dalam masyarakat
 16 - Teknologi komunikasi canggih semakin membuat orang menjadi penyendiri .
 17 - Adopsi dan konsekuensinya bagi anak angkat
 18 - Bagaimana efek perceraian pada pikiran dan mental anak-anak
 19 - Perbandingan antara orang materialistis dan spiritualistis
 20 - Menjalani hidup sebagai bujangan selamanya
 21 - Pemberdayaan perempuan dalam masyarakat konservatif
 22 - Tantangan yang dihadapi perempuan yang bekerja dalam masyarakat kita
 23 - Perbandingan antara rendah diri dan kompleks superioritas
 24 - seumur hidup Hidup di penjara
 25 - Asal sosiologi sebagai ilmu

Teman-teman dapat memilih salah satu judul atau topik di atas dan menggunakannya sebagai topik untuk esai anda tentang sosiologi atau mengembangkan sendiri dengan memberikan tambahan ide-ide lainnya

Pastikan anda memilih topik yang sesuai dengan minat anda agar dapat lebih menguasai tentang topik tersebut.

Akhir kata nasihat adalah untuk sering berkonsultasi kepada dosen atau guru pembimbing anda jika Anda memiliki pertanyaan, dan baik-baiklah menjadi murid karena nilai Anda di tangannya . haha 

Menuju Paradigma Sosiologi Terpadu

Karya Thomas Kuhn  The Structure of Scientific Revolution (1962, 1970) telah mencetuskan aktivitas di berbagai disiplin ilmu. Contohnya karya Friedrich (1970), Effrat (1972), Eisenstadt dan Curelaru (1976) dan karya George Ritzer sendiri (1975) dimana Ritzer menyimpulkan sosiologi sebagai ilmu yang berparadigma banyak. Sebagian besar orang yang menganalisa status sosiologi dewasa ini sependapat dengan kesimpulan Ritzer.
   
Untuk menanggulangi masalah di tingkat paradigma, Ritzer mencoba mencipatakan suatu exemplar paradigma terpadu. Untuk itu ia mengajukan model yang diharapkannya akan menarik perhatian sosiolog yang tak menyukai paradigma sosiologi yang kini ada.
   
Ide kuncinya disini ialah tingkat realitas sosial. Ini bukan berarti bahwa realitas sosial benar-benar terbagi dalam beberapa tingkatan. Dalam kenyataanm realitas sosial paling cepat dipandang sebagai kesatuan sosial yang berskala luas yang mengalami perubahan secara terus menerus. Untuk menerangkan kompleksitas yang sangat luas ini, sosiolog harus melakukan abstraksi dalam berbagai tingkatan kepentingan analisa secara sosiologis. Jadi tingkatan tersebut lebih merupakan suatu kontrak sosiologis dari pada sebagai gambaran keadaan sebenarnya yang ada dalam masyarakat.
   
Tingkatan realitas sosial dapat diperoleh dari interrelasi dua dasar kontinum sosial, yakni maskroskopik-mikroskopik dan obyektif-subyektif. Dimensi makroskopik-mikroskopik berkaitan dengan ukuran besarnya fenomena sosial, mulai dari kehidupan masyarakat sebagai suatu keseluruhan sampai kepada tindakan sosial. Sedangkan kontinum obyektif-subyektif, mengacu pada persoalan apakah fenomena sosial berupa barang suat yang nyata-nyata ada dan berujud material (seperti birokrasi dan pola-pola interaksi sosial) ataukah berupa barang sesuat yang adanya hanya di dalam alam ide dan didalam pengetahuan saja (seperti norma-norma dan nilai-nilai)

Sosiologi adalah ilmu yang berparadigma banyak. Dalam bab ini Ritzer menguraikan pandangannya tentang status dan perluasan ide-ide yang dikumukakannya dalam karyanya terdahulu. Sasaran utama nya adalah menciptakan paradigma yang lebih terpadu. Untuk maksud itu ia telah membahas karya-karya sosiolog terkemuka yang telah mengetengahkan petunjuk bermanfaat dalam hal ini. Meskipun tak satupun dari karya itu yang sama sekali memadai, tetapi ternyata sudah banyak sosiolog yang telah mempunyai pengertian tentang pendekatan terpadu itu. Berdasarkan karya mereka itu Ritzer menawarkan garis besar exemplar bagi paradigma terpadu.

Perbedaan Antar Paradigma Dalam Ilmu Sosiologi

Ritzer menemukan perbedaan antara ketiga paradigma sosiologi itu bersifat estetis. Perbedaan ini sesuai dengan pengalaman penelitian dilapangan. Berbagai komponen dalam masing-masing paradigma saling menyesuaikan diri kearah hubungan yang makin harmonis.

Keseluruhan pendekatan teoritis dalam masing-masing paradigma diakui sebagai persamaan yang medasar, meskipun terdapat perbedaan dalam orientasi teoritis. Metode yang disukai oleh masing-masing paradigma, jelas sekali salng berpautan dengan masing-masing paradigma. Karena itu menurut Ritzer, paradigma yang ada dalam sosiologi itu saling berhubungan satu sama lain dengan demikian akan melemahkan sebagian besar dasar-dasar perbedaan yang ada sekarang. Ada memang perspektif yang tak dapat dikategorikan. Diantaranya adalah teori penting yang laihir dari aliran Frankfurt yang menentang klasifikasi. Teori ini menggambarkan dasar bagi kemunculan paradigma keempat. Yang lainny adalah semakin meningkatnya arti penting dari aliran biologi dalam sosiologi.

PERBEDAAN PARADIGMA SOSIOLOGI SEKARANG

Sosiologi dewasa ini secara radikal terbagi dalam tiga paradigma yang saling bersaingan. Masing masing berjuang mencapai dominasi. Pada waktu bersamaan ketiganya berkompetisi untuk memperoleh keunggulan dalam sub-area yang berdekatan dalam sosiologi. Tak ada pendukung paradigma tertentu yang bebas dari keritik penganut paradigma lainnya. Adapun yang menjadi implikasi dari kemajemukan paradigma tersebut terhadap sosiologi modern dewasa ini.

PERBEDAAN PARADIGMA SOSIOLOGI DIMASA DATANG

Ritzer menduga sebagian besar sosiolog tidak menyadari ujud perbedaan yang mendasar dalam sosiologi itu. Sebagian besar sosiolog dimasa lalu percaya perbedaan antara teori konflik dan teori fungsionalisme structural merupakan perbedaan yang mendasar dalam sosiologi.

Konklusi paling umum ialah bahwa dalam waktu dekat akan terjadi perdamaian paradigma sosiologi. Dalam waktu singkat nampaknya tak aka nada paradigma dominan dalam sosiologi. Alasannya banyak.
Pertama, jarang terjadi suatu ilmu didominasi oleh satu paradigma saja.
Kedua, meskipun penganut masing-masing paradigma menyatakan mampu menyelesaikan segenap persoalan sosiologi, namun pendekatan mereka rupanya hanya cocok untuk bidang realitas sosial tertentu saja.
Ketiga, dan terpenting, karena kesetiaan yang fanatic penganut paradigma itu terhadap politik dan tujuan paradigmanya masing-masing belum terlihat langkah-langkah yang berarti kearah pengembangan paradigma tunggal sampai saat ini karena kebanyakan sosiolog lebih beketetapan hati terhadap paradigma yang mereka anut daripada pengembangan pemikiran sosiologisnya. Komitmen utama mereka ialah untuk memenangkan paradigma yang mereka anut.

Untuk memahami ketiga paradigma, paradigma fakta sosial, paradigma prilaku sosial dan paradigma defenisi sosial secara mendalam kita harus mempelajari strukturnya, norma-norma dan nilai-niali yang dilipatnya seperti, definisi situasi dan akibat tindakan dari sosiolog penganut masing-masing paradigma itu. Suatu paradigma sosiologi mencakup struktur, institusi, defenisi situasi, tindakan dan kemungkinan perulangan tindakan. Berdasarkan kenyataan ini kita memerlukan seluruh paradigma.

 JEMBATAN PARADIGMA

Menurut Ritzer semua teoritis besar sosiologi sebenarnya mampu menjadi jembatan paradigma. Mereka sedikit banyak mampu bergerak dengan mudah diantara dua atau lebih paradigma yang didiskusikan disini. Ini sama sekali bukan proses yang disadari sekalipun sebagian besar teoritisi itu merasa perlu menerangkan realitas sosial menurut cara yang berlainan. Ada yang mencoba berususan dengan berbagai macam paradigma sekaligus, sementara yang lain berpindah dari satu paradigma ke paradigma lainnya. Yang termasuk jembatan paradigma dalam sosiologi ialah : Durkheim, Weber, Marx dan Parsons.

Secara terperinci kandungan Bab ini dapat disimpulkan sebagai berikut.
  1. Behaviorisme selain disukai banyak sosiolog juga merupakan perspektif utama sosiologi kontemporer. Sebagian besar analisa sosiologi mengabaikan arti penting behaviorisme
  2. Konsepsi umum yang memisahkan antara teori fungsionalisme structural dan teori konflik adalah menyesatkan. Kedua teori ini lebih banyak unsure persamaanya ketimbang perbedaanya, karena keduanya tercakup kedalam satu paradigma
  3. Implikasi lain ialah adanya hubungan antara teori dan metode yang selalu dikira dipraktekan secara terpisah satu sama lain. Umumnya terdapat keselarasan antara teori dan metode
  4. Ada irrasionalitas dalam sosiologi, kebanyakan sosiolog yang terlibat dalam pekerjaan teoritis dan metodologi tidak memahami kaitan erat antar keduanya.
  5. Pertentangan antar paradigma sosiologi sangat bersifat politik. Tiap paradigma bersaing disetiap bidang sosiologi. Kebanyakan upaya semata-msata untuk menyerang lawan dari paradigma lain dengan berondongan kata-kata yang berlebih-lebihan.

Paradigma Sosiologi - Perilaku Sosial

1.    EXEMPLAR

Pendekatan behaviorisme dalam ilmu sosial sudah dikenal sejak lama, khususnya psikologi. Kebangkitannya di seluruh cabang ilmu sosial di zaman modern, ditemukan dalam karya B.F. Skinner, yang sekaligus pemuka exemplar paradigma ini. Melalui karya itu skinner mencoba menerjemahkan prinsip-prinsip psikologi aliran behaviorisme kedalam sosiologi. Teori, gagasan dan praktek yang dilakukannya telah memegang peranan penting dalam pengembangan sosiologi behavior.

Skinner melihat kedua paradigma fakta sosial dan definisi sosial sebagai perspektif yang bersifat mistik, dalam arti mengandung sesuatu persoalan yang bersifat teka-teki, tidak dapat diterangkan secara rasional. Kritik skinner ini tertuju kepada masalah yang substansial dari kedua paradigma itu, yakni eksistensi obyek studinya sendiri. Menurut Skinner, kedua paradigma itu membangun obyek studi berupa sesuatu yang bersifat mistik.

Ide pengembangan paradigma perilaku sosial ini dari awal sudah dimaksudkan untuk menyerang kedua paradigma lainnya. Karena itu tidak mengherankan bila perbedaan pandangan antara paradigma perilaku sosial dengan kedua paradigma lainnya itu merupakan sesuatu yang tidak dapat terelakkan.

Dalam bukunya Beyond Freedom and Dignity Skinner menyerang langsung paradigma definisi sosial dan secara tak langsung terhadap paradigma fakta sosial, seperti yang tercermin dalam uraian berikut. Konsep yang didefinisikan oleh paradigma fakta sosial dinilainya mengandung ide yang bersifat tradisional khususnya mengenai nilai-nilai sosial. Menurutnya pengertian kultur yang diciptakan itu tak perlu disertai dengan unsure mistik seperti ide dan nilai sosial itu. Alasannya karena orang tidak dapat melihat secara nyata ide dan nilai-nilai dalam mempelajari masyarakat. Yang jelas terlihat adalah bagimana manusia hidup, memelihara anaknya, cara berpakaian, mengatur kehidupan bersamanya dan sebagainya.

2.    POKOK PERSOALAN

Paradigma perilaku sosial memusatkan perhatiannya kepada antar hubungan antara individu dan lingkungannya.
Lingkungan itu terdiri atas:
a)    Bermacam-macam obyek sosial
b)    Bermacam-macam obyek non sosial
Prinsip yang menguasai hubungan antara individu dengan obyek sosial adalah sama dengan prinsip yang menguasai hubungan antara individu dengan obyek non sosial.
   
Penganut paradigma ini memusatkan perhatian kepada proses interaksi. Tetapi secara konseptual berbeda dengan paradigma definisi sosial. Bagi paradigma definisi sosial, actor adalah dinamis dan mempunyai kekuatan kreatif di dalam interaksi. Actor tidak hanya sekedar penanggap pasif terhadap stimulus tetapi menginterpretasikan stimulus yang diterimanya menurut caranya mendefinisikan stimulus yang diterimanya itu. Bagi paradigma perilaku sosial individu kurang sekali memiliki kebebasan.

Perbedaan pandangan antara paradigma perilaku sosial ini dengan paradigma fakta sosial terletak pada sumber pengendalian tingkah laku individu. Bagi paradigma fakta sosial, strutur makroskopik dan pranata-pranata yang mempengaruhi atau yang mengendalikan tingkah laku inidividu, bagi paradigma perilaku sosial persoalannya lalu bergeser. Sampa seberapa jauh faktro struk tru hubungan individu dan terhadap kemungkinan perulangan kembali persoalan ini yang dicoba di jawab oleh teori-teori paradigma prilaku sosial.

3.    TEORI-TEORI PRILAKU SOSIAL

Ada dua teori yang termasuk ke dalam paradigma perilaku sosial 1). Behavioral Sosiologi dan 2). Teori exchange

1)    Teori Behavioral Sosiologi
Teori ini dibangun dalam rangka menerapkan prinsip psikologi perilaku kedalam sosiologi. Teori ini memusatkan perhatiannya kepada hubungan antara akibat dari tingkah laku yang terjadi di dalam lingkungan actor dengan tingkah laku actor.
Konsep dasar behavioral sosiologi yang menjadi pemahamannya adalah “reinforcement” yang dapat diartikan sebagai ganjaran (reward) tak ada sesuatu yang melekat dalam obyek yang dapat menimbulkan ganjaran. Perulangan tingkahlaku tak dapat dirumuskan terlepas dari efeknya terhadap perilaku itu sendiri. Perulangan dirumuskan dalam pengertiannya terhadap actor.
2)    Teori Exchange
Tokoh utamanya adalah George Hofman. Teori ini dibangun dengan maksud sebagai reaksi terhadap paradigma fakta sosial.

Keseluruhan materi teori exchange itu secara garis besarnya dapat dikembalikan kepada lima proposisi George Hofman berikut:
  1. Jika tingkah laku atau kejadian yang sudah lewat dalam konteks stimulus dan situasi tertentu memperoleh ganjaran, maka besar kemungkinan tingkah laku atau kejadian yang mempunyai hubungan stimulus dan situasi yang sama akan terjadi atau dilakukan. Proposisi ini menyangkut hubungan antara apa yang terjadi pada waktu silam dengan yang terjadi pada waktu sekarang.
  2. Menyangkut frekwensi ganjaran yang diterima atas tanggapan atau tingkah laku tertentu dan kemungkinan terjadinya peristiwa yang sama pada waktu sekarang.
  3. Memberikan arti atau nilai kepada tingkah laku yang diarahkan oleh orang lain terhadap actor. Makin bernilai bagi seorang sesuatu tingkah laku orang lain yang ditujukan kepadanya makin besar kemungkinan untuk mengulangi tingkah lakunya itu.
  4. Makin sering orang menerima ganjaran atas tindakannya dari orang lain, makin berkurang nilai dari setiap tindakan yang dilakukan berikutnya
  5. Makin dirugikan seseorang dalam hubungannya dengan orang lain, makin besar kemungkinan orang tersebut akan mengembangkan emosi. Misalnya marah.

4.    METODE

Paradigma perilaku sosial dapat menggunakan metode yang dipergunakan oleh paradigma yang lain seperti kuesioner, interview dan observasi. Namun demikian paradigma ini tidak banyak mempergunakan metode experiment dalam penelitiannya. Keutamaan metode eksperimen adalah memberikan kemungkinan terhadap peneliti untuk mengontrol dengan ketat obyek dan kondisi disekitarnya.  Metode ini memungkinkan pula untuk membuat penilaian atau pengukuran dengan tingkat ketepatan yang tinggi terhadap efek dari perubahan-perubahan tingkah laku actor yang ditimbulkan dengan sengaja didalam eksperimen itu

Paradigma Sosiologi Fakta Sosial

1.    EXEMPLAR

Exemplar paradigma fakta sosial ini diambil dari kedua karya Durkheim. Durkheim meletakkan landasan paradigma Fakta Sosial melalui karyanya The Rules of Sociological Method (1895) dan suicide (1897). Untuk memisahkan sosiologi dari pengaruh filsafat dan untuk membantu sosiologi mendapatkan lapangan penyelidikannya sendiri maka Durkheim membangun satu konsep yakni: Fakta sosial

Fakta sosial ini lah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi. Fakta sosial dinyatakannya sebagai barang sesuatu (thing) yang berbeda dengan ide. Barang sesuatu menjadi objek penyelidikan dari seluruh ilmu pengetahuan. Ia tidak dapat di pahami melalui kegiatan mental murni (spekulatif). Tetapi untuk memahaminya diperlukan penyusunan data riil dluar pemikiran manusia. Fakta sosial harus diteliti didalam dunia nyata sebagaimana orang mencari barang sesuatu lainya:

Fakta sosial menurut Durkheim terdiri atas dua macam:
1.    Dalam bentuk material. Yaitu barang sesuatu yang dapat disimak. Ditangkap dan di observasi.
2.    Dalam bentuk non material. Yaitu sesuatu yang dianggap nyata (external). Fakta sosial jenis ini merupakan fenomena yang bersifat inter subjective yang hanya dapat muncul dari dalam kesadaran manusia. Contohnya egoism, altruism dan opini.

Untuk memisahkan sosiologi dari psikologi, Durkheim dengan tegas pula membedakan antara fakta sosial dengan fakta psikologi. Fakta psikologi adalah fenomena yang dibawa oleh manusia sejak lahir (inherited). Dengan demikian bukan merupakan hasil pergaulan hidup masyararakat. Fakta sosial tidak dapat diterangkan dengan fakta psikologi. Ia hanya dapat diterangkan dengan fakta sosial pula. Karena itu ahli psikologi telah diperingatkan pula untuk tidak terlallu lama membuang waktu dengan mencoba menyelidiki fakta sosial karena fakta sosial adalah lapangan penyelidikan dari sosiologi.

2.    POKOK PERSOALAN


Pokok persoalan yang harus menjadi pusat perhatian penyelidikan sosiologi menurut paradigma ini adalah : fakta-fakta sosial. Secara garis besarnya fakta sosial terdiri atas dua tipe. Masing-masing adalah struktur sosial (sosial institution) dan pranata sosial. Sifat dasar serta antar hubungan dari fakta sosial inilah yang menjadi sasaran penelitian sosiologi menrurt paradigma fakta sosial.
Secara lebih terperinci fakta sosial itu terdiri atas : kelompok, kesatuan masyarakat tertentu (societies), system sosial, posisi, peranan, nilai-nilai, keluarga, pemerintahan dsb.
Menurut Peter Blau ada dua tipe dasar dari fakta sosial
  1. Nilai-nilai umum (common values)
  2. Norma yang terujud dalam kebudayaan atau dalam subculture
Norma dan pola nilai ini  biasa disebut institutopm atau disini diartikan dengan pranata. Sedangkan jaringan hubungan sosial dimana interaksi sosial berproses dan menjadi terorganisir serta melalui mana posisi-posisi sosial dari individu dan sub kelompok dapat dibedakanm sering diartikan sebagai struktur sosial. Dengan demikian, struktur sosial dan pranata sosial inilah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi menurut paradigma fakta sosial.
   
Bagi penganut paradigma fakta sosial, apakah mereka memusatkan perhatiannya kepada struktur sosial atau kepada pranata sosial, namun keduanya mereka pandang sebagai barang sesuatu yang sungguh-sungguh ada dalam bentuk material yang utuh dan kompleks. Perhatian utama penganut paradigma fakta sosial terpaut kepada antar hubungan antara struktur sosial, pranata sosial dan hubungan antara individu dengan struktur sosial serta antara hubungan antara individu dengan pranata sosial. Teori-teori sosiologi berbeda terminologi dalam mengkonseptualisasikan antar hubungan pranata sosial, struktur sosial dan individu ini. Perbedaan tersebut jelas terlihat dalam bahasan.

3.    TEORI-TEORI

Ada empat varian teori yang tergabung kedalam paradigma fakta sosial ini. Masing-masing adalah :
  1. Teori fungsionalisme structural
  2. Teori konflik
  3. Teori system
  4. Teori sosiologi makro
Yang dominan adalah dua teori yang disebut mula-mula. Yang dibicarakan juga hanya kedua teori pertama itum yakni teori fungsionalisme structural dan teori konflik.

TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL

Teori ini menekankan kepada keteraturan (order) dan mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Konsep-konsep utamanya adalah : fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifest dan keseimbangan (equilibrium)

TEORI KONFLIK

Teori ini dibangun dalam rangka untuk menentang secara langsung terhadap teori fungsionalisme structural. Karena itu tidak mengherankan apabila proposisi yang dikemukakan oleh penganutnya bertentangan dengan proposisi yang terdapat dalam teori fungsionalisme structural. Tokoh utama teori konflik adalah Ralp Dahrendorf.
   
Kalau menurut teori fungsionalisme structural masyarakat berada dalam kondisi statis atau tepatnya bergerak dalam kondisi keseimbangan maka menurut teori konflik malah sebaliknya. Masyarakat senantiasa dalam proses perubahan yang ditandai oleh pertentangtan yang terus menerus diantara unsure-unsurnya.
   
Kesimpulan penting yang dapat diambil adalah bahwa teori konflik ini ternyata terlalu mengabaikan keteraturan dan stabilitas yang memang ada dalam masyarakat di samping konflik itu sendiri. Masyarakat selalu dipandangnhya dalam kondisi konflik. Mengabaikan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku umum yang menjamin terciptanya keseimbangan dalam masyarakat. Masyarakat seperti tidak pernah aman dari pertikaian dan pertentangan.

4.    METODE PENELITIAN PARADIGMA FAKTA SOSIAL


Penganut paradigma fakta sosial cenderung mempergunakan metode kuesioner dan intervieu dalam penelitian empiris mereka. Metode observasi umpamanya ternyata tidak begitu cocok untuk studi fakta sosial. Alasannya karena sebagian besar dari fakta sosialmerupakan sesuatu yang dianggap sebagai barang sesuatu (a thing_ yang nyata yang tidak dapat diamati secara langsung. Hanya dapat di pelajari melalu  pemahaman (intepretatif understanding). Selain itu metode observasi dinilai terlalu sempit dan kasar untuk tujuan penelitian fakta sosial. Metode experiment juga ditolak pemakaiannya alasannya karena terlalu sempit untuk dapat meneliti fakta sosial yang memang bersifat makroskopik.

Pemakaian metode kuesioner dan interview oleh para penganut paradigma fakta sosial ini sebenarnya mengandung suatu ironi sebab informasi yang dikumpulkan melalui kuesioner dan interview banyak mengandung unsure subyektivitas dari si informan.

Terhadap kelemahan metode tersebut James Coleman (1970) mengajukan beberapa saran sbb. Pertama kelemahan kuesioner dan interview dapat diatasi dengan menyusun pertanyaan-pertanyaan yang runtun secara rasional. Kedua dengan mengajukan pertanyaak ekpada individu tentang unit sosialnya sendiri. Dua cara ini merupakan cara terakhir untuk memperoleh informasi fakta sosial. Ketiga dengan menggunakan teknik sampling yang disebut coleman:”Snowball Sampling”. Artinya menanyakan kepada anggota sampel siapa saja yang menjadi teman terdekatnnya. Selain dari itu dapat pula dipergunakan teknik sampling yang disebutnya :saturation samling, yakni dengan mengajukan pertannyaan sosiometrik dalam jumlah yang banyak. Terakhir dapat pula dilakukan sampling bertingkat (multi stage sampling).





Paradigma Sosiologi - Defenisi Sosial

1.    EXEMPLAR

Exemplar paradigma ini adalah salah satu aspek yang sangat khusus dari karya Weber, yakni dalam analisanya tentang tindakan sosial. Konsep Weber tentang fakta sosial berbeda sekali dari konsep Durkheim. Weber tidak memisahkan dengan tegas antara struktur sosial dengan pranata sosial. Struktur sosial dan pranata sosial keduanya membantu untuk membentuk tindakan manusai yang penuh arti dan penuh makna.

2.    POKOK PERSOALAN

Weber mengartikan sosiologi sebagai studi tentang tindakan sosial antar hubungan sosial. Kedua hal itulah yang menurutnya menjadi pokok persoalan sosiologi. Yang dimaksudkannya dengan tindakan sosial itu adalah tindakan individu sepanjang tindakannya itu mempunyai makna atau arti subyektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain.
  
Secara defenitif Weber merumuskan sosiologi sebagai ilmu yang berusaha untuk menafsirkan dan memahami (interpretative understanding) tindakan sosial serta antar hubungan sosial untuk sampai kepada penjelasan kausal. Dalam defenisi ini terkandung dua konsep dasarnya. Pertama konsep tindakan sosial. Kedua konsep tentang penafsiran dan pemahaman. Konsep terakhir ini menyangkut metode untuk menerangkan yang pertama.
  
Weber mengemukakan lima ciri pokok yang menjadi sasaran penelitian sosiologi yaitu:
  1. Tindakan manusia, yang menurut si actor mengandung makna yang subyektif. Ini meluputi berbagai tindakan nyata.
  2. Tindakan nyata dan bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat subyekfif
  3. Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan yang sengaja diulang serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam.
  4. Tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada beberapa individu.
  5. Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang lain itu
Tindakan sosial dapat pula dibedakan dari sudut waktu sehingga ada tindakan yang darahkan kepada waktu sekarang, waktu lalu atau waktu yang akan dating.
  
Pertanyaannya: bagaimana mempelajari tindakan sosial itu ? Weber menganjurkan melalui penafsiran dan pemahaman (intepretatif understanding) atau menurut terminologi Weber sendiri dengan: Verstehen. Jelas disini untuk mempelajarinya tidak mudah. Bila seseorang hanya berusaha meneliti perilaku (behavior) saja dia tidak akan yuakin bahwa perbuatan itu mempunya iarti subyektif dan diarah kan kepada orang lain. Peneliti sosiologi harus mencoba menginterpretasikan tindakan si actor. Dalam artian yang mendasar, sosiolog harus memahami motif dari tindakan si actor.
  
Timbul pertanyaan kedua: Bagaimana memahami motif tindakan si actor itu? Hal ini weber menyarankan dua cara: 1). Dengan melalui kesungguhan 2). Dengan coba mengenangkan dan menyelami pengalaman siaktor.
Tambahan idenya tentang pemahaman ini menempatkan Weber terpisah dari penganut paradigma lainnya. Metode pemahaman yang diajukan weber ini bukan hanya bersifat pemberian penjelasan kausal belaka terhadap tindakan sosial manusia seperti penjelasan dalam ilmu alam.

3.    TEORI-TEORI DEFENISI SOSIAL

Ada tiga teori yang termasuk ke dalam paradigma defenisi sosial ini. Masing-masing: Teori aksi (action theory), interaksionisme simbolik(simbolik interactionism) dan fenomenologi (phenomenology). Ketiga tiganya jelas mempunyai beberapa perbedaan, tapi juga dengan beberapa persamaan dalam factor-faktor yang menetukan tujuan penyelidikannya serta gambaran tentang pokok persoalan sosiolgi menurut masing-masing yang dapat mengurangi perbedaannya.
  
Ketiga teori yang termasuk kedalam paradigma definisi sosial, sama sama mengarahkan perhatian kepada: proses sosial, terutama para pengikut interaksionisme simbolik. Dalam kadar yang agak kurang terdapat pula pada penganut teori aksi dan fenomenologi.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas berikut ini akan dibahas ketiga teori itu satu persatu.

TEORI AKSI (Action Theory)

Teori ini sepenuhnya mengikuti karya Weber. Teori aksi dewasa ini tidak banyak emngalami perkembangan melebihi apa yang sudah di capai took utamanya Weber. Malahan teori ini sebenarnya telah mengalami semacam jalan buntu. Arti pentingnya justru terletak pada peranannya dalam mengembangkan kedua teori berikutnya yakni teori interaksionisme simbolis dan teori fenomenologi.

TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK

Teori interaksionisme simbolik ini berkembang pertama kali di Universitas Chicago dikenal dengan aliran Chicago. Dua orang tokoh besarnya John Dewey dan Charles Horton Cooley adalah filosof yang semula mengembangkan Teori interaksionisme simbolik di Universitas Michigan. Dewey yang pindah ke Universitas Chicago mempengaruhi beberapa orang tokoh disana.
  
Walaupun begitu dari keseluruhan aliran pemikiran sosiologi. Interaksionisme simbolik adalah teori yang paling sukar disimpulkan. Teori ini berasal dari berbagai sumber tetapi tidak ada satu sumber yangdapat memberikan pernyataan tunggal tentang apa yang menjadi isi dari teori ini, kecuali satu hal, yakni bahwa ide dasar teori ini bersifat menentang behaviorisme radikal yang dipelopori oleh J.B.Watson. hal ini tercermin dari gagasan tokoh sentral teori yakni G.H. Mead yang bermaksud untuk membedakan teori ini dari teori behavioralisme radikal itu.
  
Behaviorisme sebagaimana namanya menunjukan, mempelajari tingkah laku manusia secara obyektif dari luar. Sedang kan Mead dari interaksionisme simbolik, mempelajari tindakan sosial dengan mempergunakan teknik itrospeksi untuk dapat mengetahui barang sesuatu yang melatar belakangi tindakan sosial itu dari sudut actor.

TEORI FENOMENOLOGI

Persoalan pokok yang hendak diterangkan oleh teori ini justru menyangkut persoalan pokok ilmu sosial sendiri, yakni bagaimana kehidupan bermasyarakat ini dapat terbentuk.
  
Secara singkat dapat dikatakan bahwa interaksi sosial terjadi dan berlangsung melalui penafsiran dan pemahaman tindakan masing-masing baik antar individu maupun antar kelompok.
Ada empat unsur pokok dari teori ini:
  1. Perhatian terhadap actor. Penggunaan metode ini dimaksudkan pula untuk mengurangi pengaruh subyektivitas yang menjadi sumber penympangan, bias dan ketidaktepatan informasi.
  2. Memusatkan perhatian pada kenyataan yang penting atau yang pokok dak kepada sikap yang wajar atau alamiah (natural attitude) alasannya adalah tidak keseluruhan gejala kehidupan sosial mampu diamati. Karena itu perhatian harus dipusatkan kepada gejala yang penting dari tindakan manusai sehari-hari dan terhadap sikap-sikap yang wajar.
  3. Memusatkan perhatian kepada masalah mikro. Maksudnya mempelajari proses pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial pada tingkat interaksi tatap muka untuk memahaminya dalam hubungan nya dengan situasi tertentu.
  4. Memperhatikan pertumbuhan, perubahan dan proses tindakan. Berusaha memahami bagaimana keteraturan masyarakat diciptakan dan dipelihara dalam kehidupan pergaulan sehari-hari.

4.    METODE DEFENISI SOSIAL

Penganut paradigma Definisi sosial ini cenderung mempergunakan metode observasi dalam penelitian mereka. Alasannya adalah untuk dapat memahami realitas intrasubhective dan intersubjective dari tindakan sosial dan interaksi sosial. Untuk maksud tersebut metode kuesioner dan interview dinilai kurang relefvan. Begitupula metode eksperimen. Metode ini meskipun dapat mengganggu spontanitas tindakan serta kewajaran dari sikap si actor yang diselidiki, melalui penggunaan metode observasi dapat disimpulkan hal hal yang bersifat intrasubjective dan intersubjective yang timbul dari tindakan actor yang diamati.
Tipe teknik observasi
  
Teknik yang paling ringan adalah observasi yang bersifat eksplorasi. Teknik ini paling subyektif sifatnya dan pemakaiannya berhubungan erat dengan rencana observasi yang sebernarnya. Biasanya teknik observasi dipergunakan terutama untuk mengamati tingkahlaku actual, berdasarkan cara peneliti berpartisipasi didalam kelompok yang diselidikinya, dapat dibedakan empat tipe observasi:
  1. Participant observation. Peneliti tidak memberitahukan maksudnya kepada kelompok yang diselidikinya. Peneliti dengan sengaja menyembunyikan bahwa kehadirannya ditengah-tengah kelompok yang diselidikinya itu adalah untuk meneliti.
  2. Participant as observer. Bedanya dengan teknik yang pertama terletak pada kenyataan bahwa dalm teknik ini peneliti memberitahukan maksudnya kepada kelompok yang diteliti.
  3. Observer as participant. Teknik ini dipergunakan dalam penelitian yang hanya berlangsung dalam sekali kunjungan dan dalam waktu singkat, misalnya sehari. Karena itu teknik ini jelas memerlukan perencanaan yang sangat terperinci tentang segala sesuatu  yang akan dicari melalui penelitian singkat itu.
  4. Complete observer. Peneliti tidak berpartisipasi tetapi menempatkan dirinya sebagai orang luar sama sekali dan subyek yang diselidiki tidak menyadari bahwa mereka sedang diselidiki. Teknik ini dapat terstruktur atau tidak.
Kelemahan teknik observasi ini ialah bahwa diberitahukan atau tidak namun kehadiran peneliti ditengah-tengah kelompok yang diselidiki itu akan mempengaruhi tingkah laku subyek yang diselidiki itu. Lagi pula tidak semua tingkah laku dapat diamati dengan teknik ini. Seperti tingkah laku seksual misalnya.

Pengertian Paradigma Sosiologi - George Ritzer

Kajian ini berusaha membahas beberapa permasalahan sebagai berikut: Apa yang dimaksudkan dengan paradigma sosiologi itu? Apa sebab timbulnya paradigma dalam sosiologi ? Bagaimana hubungan antara paradigma yang satu dengan paradigma yang lain? Inilah beberapa masalah yang dibahas dalam uraian berikut ini.

Disadur dari buku Sosiologi Ilmu Berparadigma Ganda - George Ritzer, setiap babnya terbagi kedalam beberapa post yang bisa dilihat di halaman bawah.

Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Khuhn dengan karyanya The structure of Scientific Revolution (1962). Konsep paradigma yang di populerkan oleh Robert Friedrichs melalui bukunya  Sosiology of Sosiology  (1970) yang kemudian selanjutnya di ikuti oleh Lodahl dan Cordon (1972), Philips (1973), Effrat (1972) serta Friedrichs sendiri (1972a) dan (1972 b)

Paradigma merupakan terminologi kunci dalam model perkembangan ilmu pengetahuan yang diperkanalkan Kuhn. Tapi sayangnya ia tidak merumuskan dengan jelas tentang apa yang dimaksudkannya dengan paradigma itu. Malahan istilah paradigma yang dipergunakan tak kurang dari dua puluh satu cara yang berbeda. Masterman mencoba meredusir kedua puluh satu konsep paradigma Kuhn yang berbeda beda itu menjadi tiga tipe. Yaitu:

1.    Paradigma Metafisik (metaphysical paradigma) memerankan beberapa fungsi:

  • Menunjukan kepada sesuatu yang ada (dan sesuatu yang tidak ada) yang menjadi pusat perhatian dari suatu komunitas ilmuwan tertentu.
  • Menunjuk kepada komunitas ilmuwan tertentu yang memusatkan perhatian mereka untuk menemukan sesuatu yang ada yang menjadi pusat perhatian mereka.
  • Menunjuk kepada ilmuwan yang berharap untuk menemukan sesuatu yang sungguh-sungguh ada yang menjadi pusat perhatian dari disiplin ilmu mereka.
Dengan demikian paradigman metafisik ini merupakan konsenus yang terluas dalam suatu disiplin ilmu, yang membantu membatasi bidang (scope) dari suatu ilmu sehingga dengan demikian membantu mengarahkan komunitas ilmuwan dengan melakukan penyelidikannya.

2.    Paradigma Sosiologi (Sociological Paradigma)

Paradigm sosiologi ini sangat mirip dengan konsep exemplar dari Thomas Khun. Khun mendiskusikan keanekaragaman fenomena yang mencakup dalam pengertian seperti: kebiasaan-kebiasaan nyata, keputusan-keputusan hokum yang diterima, hasil-hasil nyata perkembangan ilmu pengetahuan, serta hasil-hasil penemuan ilmu pengetahuan yang diterima secara umum.

3.    Paradigma Konstruk ( Construct Paradigma)

Paradigma konstruk adalah konsep yang paling sempit di antara ketiga tipe paradigman yang di kemukankan oleh Masterman di atas. Di contohkannya pembanguan reactor nuklir memainkan peranan sebagai paradigma dalam ilmu nuklir.

Sampai sedemikian jauh masih belum diperoleh suatu pengertian yang jelas tentang apa yang dimaksudkan dengan paradigma itu. Robert Friedrich adalah orang pertama yang mencoba merumuskan pengertian paradigma ini secara lebih jelas. Dalam upayanya menganalisa perkembangan sosiologi dari perspektif paradigma ini, ia merumuskan paradigma:
Sebagai suatu pandangan mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang nmenjadi pokok persoalan (Subject Matter) yang semestinya di pelajari ( a fundamental image a discipline has of its subject matter).
George Ritzer, dengan mensintesakan pengertian paradigma yang telah dikemukakan oleh Kuhn, Masterman dan Friedrich, mencoba merumuskan pengertian paradigma itu secara lebih jelas dan terperinci tentang apa ya yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan (discipline).
Paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan-persoalan apa yang mesti dijawab, bagaimana seharusnya menjawabnya, serta aturan-aturan apa yang  harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dalam rangka menjawab persoalan-persoalan tersebut.
Mengapa timbul berbagai macam paradigma dalam sosiologi?, factor apa yang membedakan atau menyebabkannya berbeda? Persoalan diatas menurut George Ritzer disebabkan karena tiga factor.
  1. Karena dari semula pandangan filsafat yang mendasari pemikiran ilmuwan tentang apa yang semestinya menjadi substansi dari cabang ilmu yang dipelajari itu berbeda. Dengan demikian, asumsi atau aksiomanya menjadi berbeda antara kelompok ilmuwan yang satu dengan kelompok ilmuwan yang lain. 
  2. Sebagai konsekuensi logis dari pandangan filsafat yang berbeda itu maka teori-teori yang dibangun dan dikembangkan oleh masing-masing komunitgas ilmuwan itu berbeda. Pada masing-masing komunitas ilmuwan berusaha bukan saja untuk mempertahankan kebenaran teorinya tetapi juga berusaha melancarkan kecaman terhadap kelemahan teori dari komunitas ilmuwan yang lain. 
  3. Dominasi , perbedaan teori melahirkan beberapa golongan komunitas yang saling untuk mendapatkan dominasi dari paradigma yang di anut masing-masing. Dukungan terhadap suatu paradigma menjadi lebih banya didasarkan atas pertimbangan politis di banding kan dengan pertimbangan obyektif ilmiah. Mereka yang mengganut paradigma yang dominan akan mendapatkan alokasi kekuasaan yang lebih besar dibandingkan dengan mereka yang menganut paradigma yang kurang dominan.Dengan demikian dilapangan ilmu pengetahuanm system nilai (value system) juga turut berpengaruh di samping obyektifitas.
Ritzer menilai bahwa sosiologi itu terdiri atas kelipatan beberapa paradigma (multiple paradigma). Pergulatan pemikiran tersebut terjema juga dalam exemplar, teori-teori, metode serta perangkat yang digunakan masing-masing komunitas ilmuwan yang termasuk kedalam paradigma tertentu. Pergulatan pemikirian sedemikian itulah yang menandai pertumbuhan dan perkembangan sosiologi sejak awal hingga kedudukannya seperti sekarang.

BAB 2: PARADIGMA FAKTA SOSIAL
BAB 3: PARADIGMA DEFENISI SOSIAL
BAB 4: PARADIGMA PERILAKU SOSIAL
BAB 5: PERBEDAAN ANTARA PARADIGMA (Suatu Penilaian)
BAB 6: MENUJU PARADIGMA SOSIOLOGI YANG TERPADU

Para Tokoh Ahli Dalam Bidang Sosiologi

Berikut adalah biographi singkat beberapa tokoh sosiologi, ahli-ahli ataupun pakar dalam perkembangan ilmu sosiologi dari masa kemasa. Pemikiran mereka tentang masalah sosial di dunia telah banyak menjadi bahan rujukan bagi penelitian-penelitian sosial pada saat sekarang ini. sumbangan mereka terhadap ilmu pengetahuan telah menjadikan mereka tokoh-tokoh yang sangat berjasa terhadap perkembangan ilmu sosiologi.

August Comte - "Bapak Sosiologi"

August Comte atau juga Auguste Comte (Nama panjang: Isidore Marie Auguste François Xavier Comte; lahir di Montpellier, Perancis, 17 Januari 1798 – meninggal di Paris, Perancis, 5 September 1857 pada umur 59 tahun) adalah seorang ilmuwan Perancis yang dijuluki sebagai "bapak sosiologi". Dia dikenal sebagai orang pertama yang mengaplikasikan metode ilmiah dalam ilmu sosial.
August Comte dari wikipedia



Émile Durkheim

David Émile Durkheim (lahir 15 April 1858 – meninggal 15 November 1917 pada umur 59 tahun) dikenal sebagai salah satu pencetus sosiologi modern. Ia mendirikan fakultas sosiologi pertama di sebuah universitas Eropa pada 1895, dan menerbitkan salah satu jurnal pertama yang diabdikan kepada ilmu sosial, L'Année Sociologique pada 1896.
Emile Durkheim dari Wikipedia




Max Weber 

Maximilian Weber (lahir di Erfurt, Jerman, 21 April 1864 – meninggal di München, Jerman, 14 Juni 1920 pada umur 56 tahun) adalah seorang ahli ekonomi politik dan sosiolog dari Jerman yang dianggap sebagai salah satu pendiri ilmu sosiologi dan administrasi negara modern. Karya utamanya berhubungan dengan rasionalisasi dalam sosiologi agama dan pemerintahan, meski ia sering pula menulis di bidang ekonomi. Karyanya yang paling populer adalah esai yang berjudul Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme. Weber berpendapat bahwa agama adalah salah satu alasan utama bagi perkembangan yang berbeda antara budaya Barat dan Timur.
Max Weber dari Wikipedia

Karl Marx

Karl Heinrich Marx (lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818 – meninggal di London, Inggris, 14 Maret 1883 pada umur 64 tahun) adalah seorang filsuf, pakar ekonomi politik dan teori kemasyarakatan dari Prusia.
Walaupun Marx menulis tentang banyak hal semasa hidupnya, ia paling terkenal atas analisisnya terhadap sejarah, terutama mengenai pertentangan kelas, yang dapat diringkas sebagai "Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah pertentangan kelas", sebagaimana yang tertulis dalam kalimat pembuka dari Manifesto Komunis.
Karl Marx dari Wikipedia


masih banyak tokoh-tokoh sosiologi dunia yang sangat berpengaruh. untuk itu tetap ikuti update post ini berikutnya 

Download Ebook Sosiologi SMA Kelas X, XI dan XII

Berikut ini adalah kumpulan buku sosiologi SMA kelas 1, 2 dan 3 berbentuk E-book pdf (elektronik book) yang dapat anda download langsung. Buku Sosiologi ini adalah buku sekolah elektronik gratis yang di terbitkan oleh Kementrian Pendidikan Nasional. Untuk membuka file ber ekstensi 'pdf' anda membutuhkan aplikasi pdf reader anda dapat langsung mengunduhnya dari link adobe.

Sosiologi SMA Kelas X

 

Sosiologi SMA Kelas XI

 

Sosiologi SMA Kelas XII